Selasa, 19 Januari 2010

ttt

Catatan tentang T dari sumedang. Masa kecil yang menyenangkan. Saya bebas masuk ke rumah tetangga kami dengan bebas, bermain, mengambil makanan tanpa yang empunya rumah marah. Siapa saja memanjakan saya, mereka bukan saudara, saya panggil mereka akang, bibi, paman atau siapa saja yang saya mau. sebuah dusun yang damai dan sejahtera.
Tetapi kenangan indah itu kini tinggal serpihan-serpihan peristiwa, yang kini dengan susah-payah dapat kugali kembali, meski tidak lengkap benar. Kenangan indah itu tercerai-berai diantara kehidupan belangsak sewaktu lulus SMA karena harus mencari kerja ke sana ke mari, tek puguh lagu. Kehidupan belangsak tersebut terjadi karena ayah tiba-tiba menghilang tak tentu rimbannya, tidak ada kabar berita, keadaan ekonomi rumah tangga yang tadinya kecukupan menjadi sulit. keadaan tersebut tidak dialami ibuku sendiri yang harus membesarkan 8 anaknya, menjaga agar anak-anaknya tetap sekolah dengan bekerja apa saja.
Tetangga yang tadinya ramah jadi menjauh. Kampung yang tadinya damai dan sejahtera menjadi kampung sepi. Penduduknya jarang tersenyum. Kantor-kantor megah bukan menjadi tempat bermain lagi. Sore yang diisi keceriaan para muda-mudi dengan bermain musik menjadi sepi, ngelangut dan kosong tanpa jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar