Selasa, 17 Maret 2009

bocah

Nindi: Pah, duit mingguan. Begitu bunyi sms tadi. kemarin minta 100 ribu untuk ikut kajian Islam di Puncak selama tiga hari.
CA: Pah mkch kadonya udah nyampe buat Kayla, ma kasih ya opa, Tuhan memberkati.
CA: kemarin sore mama nina sms, laporan tentang can. Masalah anak muda pa, cuma ibu ikut campur. Jadi ngadu yang macam-macam ke tin. pokoknya kalau urusan ama ibu pusing nanti jadi panjang urusanya pa.
Nindi: Sudah di pasar minggu pa, mau fotocopy buku perancangan lansacpe ama perancangan grafis.
CA: Pa, ternyata bojoku belum berubah, hari ini dia tidak ke kantor dan tidak ada kabar. Biasanya kalau gini pasti sama ceweknya lagi nyabu. Tin gak mau pindah ke Jakarta. Kalau dimintai duit susah pa, padahal buat anak-anak. Tin lebih baik hidup begini sendiri, dengan anak-anak.

Kamis, 05 Maret 2009

Pasrah

lamaa tak memberi kabar. sekali waktu, suatu sore. LSA SHT nelpun via HP. Dari kendari, katanya. bagamana pun can anakmu, dia butuh pertolongan. katanya sakit komplikasi. kata kakaknya, bronchitis (alergi udara dingin), radang usus buntu, sakit hapatitis, sakit ginjal, parah banget. Tetapi dianya jauh. maksudnya, tempat tinggalnya jauh banget, di Kuta, Bali. Bagi orang kaya, memang jarak segitu tidak jauh, tetapi bagi keluargaku, jauhlah karena untuk mencapai tempat itu butuh ongkos mahal. Berapa ongkos opesawat terbang untuk dua orang bolak balik. Bukan naik GA, tetapi cukuplah Mandala, Sriwijaya atau Batavia. Kalau naik Adam Air, aku takut karena seringkali kecelakaan. naik yang aman-aman saja.Apa yang harus aku lakukan, ketika berita itu datang dan tak sepeser pun uang di tangan?
Kamu pasti akan bingung. Aku hanya bisa pasrah!